Sebuah Doa Sang Juara Sejati

Posted: 6 Agustus 2011 in Uncategorized

Suatu ketika, beberapa anak mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad. Mobilnya tidak istimewa namun ia termasuk ke dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Ahmadlah yang paling tidak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya.

Namun sesaat sebelum mulai, Ahmad meminta waktu sebentar untuk berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan tertangkup ia memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “ya, aku siap!”

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo…ayo…cepat…cepat…maju…maju”, begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Ahmadlah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga dengan Ahmad. Ia berucap dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Alhamdulillah, terima kasih.”

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya, “hai jagoan, kamu tadi pasti berdoa kepada Allah SWT agar kamu menang, bukan?” Ahmad terdiam. “Bukan pak, bukan itu yang aku panjatkan”, kata Ahmad. Lalu ia melanjutkan, “sepertinya tidak adil untuk meminta pada Allah SWT untuk menolongmu mengalahkan saudaramu yang lain. Aku hanya memohon pada Allah SWT supaya aku tidak menangis jika aku kalah.”

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Anak-anak tampaknya punya lebih kebijaksanaan dibanding kita semua. Ahmad tidaklah memohon pada Allah untuk menang dalam setiap ujian. Ia juga tidak memohon agar Allah meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Ia tidak meminta agar Allah mengabulkan semua harapannya. Ia tidak berdoa untuk menang dan menyakiti yang lainnya. Namun, ia memohon pada Allah agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa agar diberi kemuliaan dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

 

Diambil dari

http://www.dagangku.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s