Tantrum Pada Anak

Posted: 10 Desember 2011 in Uncategorized
Tag:

Temper tantrum adalah suatu luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol, seringkali muncul pada anak usia 15 bulan sampai 6 tahun. Tantrum pada anak mudah dikenali, seperti: memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar tidak teratur, sulit menyukai situasi, makanan, dan orang-orang baru, lambat beradaptasi terhadap perubahan, moodnya lebih sering negatif, mudah terprovokasi, mudah marah/ kesal, sulit dialihkan perhatiannya.

Di bawah ini adalah beberapa contoh perilaku tantrum menurut tingkatan usia:

  1. Di bawah usia 3 tahun: menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik-mekik, melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan nafas, membentur-benturkan kepala, melempar-lempar barang
  2. Usia 3-4 tahun: perilaku pada nomor 1, menghentak-hentakkan kaki, berteriak-teriak, meninju, membanting pintu, mengkritik, merengek
  3. Usia 5 tahun ke atas: perilaku-perilaku pada nomor 1 dan 2, memaki, menyumpah, memukul kakak/adik atau temannya, mengkritik diri sendiri, memecahkan barang dengan sengaja, mengancam

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan tantrum, di antaranya:

  1. Terhalangnya keinginan anak untuk mendapatkan sesuatu
  2. Ketidakmampuan anak untuk mengungkapkan diri
  3. Tidak terpenuhinya kebutuhan
  4. Pola asuh orang tua
  5. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit
  6. Anak sedang stress ( akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman

Pertanyaan sebagian besar orang tua adalah bagaimana cara terbaik dalam menyikapi anak yang mengalami tantrum. Tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi tantrum, yaitu:

  1. Mencegah terjadinya tantrum, dengan mengenali kebiasaan-kebiasaan anak dan mengetahu secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul tantrum pada anak. Tantrum juga dapat dipicu karena stress akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini, mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas sekolah (bukan membuatkan tugasnya) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit olehnya, akan membantu mengurangi stress pada anak akibat tugas sekolah. Mendampingi anak tidak hanya terbatas pada tugas sekolah, tetapi juga ketika anak sedang bermain.
  2. Menangani anak yang sedang mengalami tantrum. Lihat bagaimana cara orang tua mengasuh anaknya, apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orang tua bertindak terlalu melindungi? Apakah orang tua terlalu suka melarang? Apakah orang tua selalu sekomitmen dalam mengasuh anak? Jika orang tua terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, maka anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi orang tua dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orang tua sebaiknya jangan berdebat dan adu argumentasi satu sama lain di depan anak, karena dapat menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orang tua hendaknya juga menjaga agar anak selalu melihat bahwa kedua orang tuanya selalu sepakat dan rukun.
  3. Menangani anak pasca tantrum. Saat tantrum anak sudah berhenti, seberapa pun parahnya ledakan emosi yang terjadi, jangan diikuti dengan hukuman, masehat, teguran, sindiran, atau hadiah apa pun, dan anak tetap tidak boleh mendapatkan apa yang dia inginkan (bila tantrum terjadi karena anak menginginkan sesuatu). Dengan demikian orang tua akan terlihat konsisten dan anak akan belajar bahwa ia tidak bisa memanipulasi orang tuanya. Berikan rasa cinta dan aman pada anak, dengan membaca buku atau bermain bersama, tunjukkan pada anak bahwa sekalipun ia telah berbuat salah, orang tua tetap mengasihinya. Orang tua perlu mengevaluasi mengapa sampai terjadi tantrum. Apakah anak yang berbuat salah atau orang tua yang salah merespon perbuatan/keinginan anak? Atau karena anak merasa lelah, frustasi, lapar, atau sakit? Jika anak yang dianggap salah, orang tua perlu mengajarkan pada anak nilai-nilai atau cara-cara baru agar anak tidak mengulangi kesalahannya, lakukan saat keadaan sedang tenang dan nyaman. Waktu yang tenang dan nyaman adalah ketika tantrum belum dimulai, bahkan ketika tidak ada tanda-tanda akan terjadi tantrum, saat orang tua dan anak sedang gembira, tidak merasa frustasi, lelah, dan lapar.

Jika tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua adalah:

  1. Memastikan segalanya aman. Jika tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya meluapkan emosi. Selama tantrum, jauhkan anak dari benda-benda yang berbahaya. Jika selama tantrum anak suka menyakiti teman maupun orang tuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya dan jauhkan diri anda dari anak.
  2. Orang tua harus tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
  3. Tidak mengacuhkan tantrum anak. Selama tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasehat-nasehat moral agar anak menghentikan tantrumnya, karena anak tidak akan mendengarkan. Usaha seperti itu akan membuat anak semakin tantrum. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orang tua tidak berusaha untuk menghentikannya dengan bujuk rayu atau paksaan.
  4. Jika perilaku tantrum dari menit ke menit bertambah buruk, selama anak tidak memukul-mukul anda, peluk anak dengan rasa cinta. Minimal anda duduk atau berdiri di dekatnya, tidak perlu sambil menasehati atau komplen. Kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup dengan mengatakan “mama/papa sayang kamu”. Pastikanlah bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orang tuanya ada dan tidak menolak dia.  (Adopted From Ferdinand Zaviera: Mengenali dan Memahami Tumbuh Kembang Anak, 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s