Saya Belajar, Maka Saya Ada

Posted: 9 Februari 2012 in Uncategorized

Nila Pungky Ningtias

Ada kondisi di mana kita dicintai murid-murid kita, tetapi ada kondisi dibenci murid-murid kita. Value-nya adalah keyakinan kita kalau kita sudah memberikan yang terbaik sampai batas kemampuan kita. Dan, value lagi, bukan value lain, tetapi ini primary, ketulusan yang baru dapat dirasakan pada saat terakhir.

Ada guru yang tidak melulu mengikuti permintaan murid. Ada juga guru yang selalu memberikan kejutan-kejutan menyenangkan untuk murid. Ada juga guru yang cara mengajarnya tidak biasa, dan tidak bisa diterima oleh para murid.

Saya, termasuk guru yang tidak baik. Saya masih mencari waktu untuk googling saat murid bertanya dan saya tidak tahu jawabannya. Antropotomi, apa itu?

Tetapi, saya menyembunyikan dan tampil seolah-olah saya tahu.

Saya bercerita tentang negara-negara di benua lain, tetapi saya tidak pernah ke sana. Murid bertanya, “Kapan ibu ke sana?” Saya hanya mengedikkan bahu dan bilang, “Ayo, ke sana ramai-ramai!”

Seorang murid merengek sampai hampir menangis karena tidak bisa mengerjakan soal matematika, lalu ngambek dan pergi ke luar kelas. Saya berdiri mematung di dekat bangkunya dengan pandangan seisi kelas tertuju pada saya.

Seorang murid perempuan kelas 5 selalu menolak bahkan menghardik saat berkelompok atau duduk bersebelahan dengan murid laki-laki. Saya mengajarkan dia bahwa kita sedang belajar bekerja sama dalam tim. Tetapi, ia hanya menatap saya dengan tajam dan memendam emosi. Di hari lain, saya baru tahu, ia sedang mengalami masa pubertasnya yang pertama.

Ada anak kelas 3 yang sangat cerewet dan selalu menangih saya membuat roket, tetapi saya terlalu sibuk dengan urusan pedagogis kelas tinggi. Padahal, saya punya buku dan bahan-bahannya.

Ada lagi yang ingin sekali belajar menggunakan laptop sampai terkesan memaksa. Tetapi, saya tarik ulur keinginannya sebab saya tidak ingin membuat iri teman-temannya yang lain.

See? What else?

Saya tahu, ada banyak kesalahan yang saya lakukan. Disebabkan saya yang kurang peka, saya yang kurang persiapan, saya yang kebingungan karena plinplan. Sampai-sampai saya sudah tidak peduli lagi apakah mereka masih mencintai saya. Pada akhirnya mereka akan tahu dan belajar bahwa saya seperti guru pada umumnya.

Bedanya, saya sering memaksakan kehendak saya pada mereka bahwa nilai bukan prioritas pada pelajaran saya. Tetapi, sikap yang baik dan bertanggung jawab selalu memiliki poin lebih.

Akhirnya, mereka sering bergumam kecewa saat saya menolak memberikan nilai pada beberapa tugas mereka dengan alasan masih banyak yang salah.

Beda yang lain, saya selalu menahan diri dan menghamba kesabaran untuk tidak menghardik apalagi memukul mereka.

Ya, saya memang seorang guru, bukan malaikat yang bisa menyelamatkan hidup mereka seratus persen dari kesulitan. Dan, keseharian yang saya jalani adalah kehidupan seorang guru, bukan orang suci. Manusia, lebih kurang, dan keseimbangannya. Itu sebabnya saya belajar. Saya belajar, maka saya ada.

Sumber:

Indonesia Mengajar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s