Kisah Dua Anak Adam: Qabil dan Habil

Posted: 11 Maret 2012 in Uncategorized

Allah berfirman, “Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima, dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertaqwa.” “Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” “Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang-orang yang dzalim.” Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang rugi. Kemudian Allah mengutus seekor burung gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qabil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Maka jadilah ia termasuk orang yang menyesal.” (Al-Maidah: 27-31)

 

Ketika itu Adam menikahkan satu anak laki-laki dari satu kelahiran dengan satu anak perempuan dari kelahiran yang lain. Lalu Habil dijodohkan dengan saudari kembar Qabil, dan Habil ini adalah adik Qabil (lebih muda), sementara saudari kembar Qabil lebih cantik daripada saudari kembar Habil, maka Qabil bersikeras untuk memonopoli saudari kembarnya sendiri dan menikahinya, dan ketika Adam memerintahkan agar Habil menikahi saudari kembar Qabil maka Qabil pun tidak menyetujuinya. Maka Adam memutuskan untuk menyuruh mereka mempersembahkan pengorbanan, dan Ia sendiri ketika itu akan pergi berhaji ke Mekkah. Sebelum pergi, Adam meminta kepada langit untuk menjaga anak-anaknya, namun langit menolak, lalu Ia meminta kepada bumi dan gunung, namun semua menolaknya. Hingga akhirnya, Qabil-lah yang bersedia menjaga adik-adiknya.

 

Ketika datang saatnya untuk berkorban, Habil mempersembahkan kambing yang gemuk, karena ia memang seorang peternak kambing. Sedangkan Qabil hanya mempersembahkan seikat sayuran yang buruk dari hasil tanamannya. Maka ketika nyala api menyambar, api itu hanya mengambil kambing yang dikorbankan oleh Habil dan meninggalkan korban dari Qabil. Melihat hal itu Qabil pun marah seraya berkata, “Wahai Habil, aku akan membunuhmu supaya kamu tidak bisa menikahi saudari kembarku.” Lalu Habil menjawab, “Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertaqwa.”

Anak Adam yang terbunuh (Habil) adalah yang paling kuat di antara keduanya, namun akhlaqnya mencegah ia dari perbuatan yang tidak baik (membunuh saudaranya sendiri). Adam segera diberitahukan tentang pengorbanan yang dilakukan oleh kedua anaknya, dan Ia juga mengetahui hanya korban Habil yang diterima, lalu Qabil berkata kepada Adam, “Korban Habil diterima hanya karena Engkau berdoa untuk dirinya saja, dan tidak berdoa untukku.” Setelah itu  Qabil pun menghampiri Habil dan mengancam untuk membunuhnya.

 

Ketika pada suatu hari Habil terlambat pulang ke rumahnya dari menggembala, Adam segera mengutus Qabil untuk mencari tahu apa yang membuat Habil belum juga pulang. Lalu ketika Qabil bertemu dengan adiknya itu ia berkata, “Korban yang kamu persembahkan telah diterima, sedangkan persembahanku tidak diterima.” Habil pun menjawab, “Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertaqwa.” Maka meninggilah amarah Qabil. Qabil melemparkan batu itu ke kepala Habil, hingga akhirnya Habil pun meninggal. Wallahu a’lam.

Jawaban dari Habil ketika diancam oleh kakaknya untuk dibunuh, adalah, “Sungguh, jika kamu (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.” (Al-Maidah, 28)

Jawaban itu menunjukkan betapa tingginya budi pekerti yang dimiliki oleh Habil. Ia lebih takut kepada Allah daripada kematian. Ia sungguh contoh orang yang baik, ia tidak mau membalas niat buruk saudaranya yang ingin membunuhnya dengan perbuatan yang sama.

 

Menurut keterangan beberapa ulama, bahwa tempat Habil terbunuh adalah di Gunung Qasiun, di wilayah utara Damaskus, tepatnya di sebuah gua yang dinamakan “Gaar Damm” (Gua Darah). Penduduk setempat mengenali gua tersebut sebagai tempat Habil terbunuh oleh saudaranya sendiri, Qabil.

Setelah Qabil membunuh Habil, ia memanggul mayat saudaranya itu di atas punggungnya selama satu tahun. Itulah yang dilakukan oleh Qabil hingga ia melihat burung gagak yang sebenarnya diutus oleh Allah untuk menunjukkan cara-cara menguburkan. Ketika itu Qabil melihat ada dua burung gagak yang tengah bertikai, hingga salah satu dari keduanya terbunuh, setelah itu burung gagak yang masih hidup turun ke bumi dan menggali tanah, lalu burung itu memasukkan burung gagak yang mati ke dalamnya dan menguburkannya. Lalu Qabil pun melakukan hal yang sama dengan burung gagak tadi hingga ia menguburkan saudaranya.

 

Sumber: Kisah Para Nabi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s