Khadijah binti Khuwailid (Part 2)

Khadijah adalah istri yang senantiasa setia dan mematuhi suaminya. Ketika sang suami datang kepadanya dengan tubuh gemetar sambil berkata: “Selimutilah aku! Selimutilah aku!”, maka ia pun sangat takut dan bergegas memenuhi permintaan suaminya. Ia segera menyelimutinya. Selanjutnya, ia memperhatikan dengan seksama cerita sang suami. Begitu mendengar cerita suaminya, ia pun merasa iba dan seketika ia berkata dengan penuh keyakinan: “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu untuk selamanya, sebab engkau adalah orang yang suka menyambung tali silaturahim, suka meringankan beban orang lain, suka mengulurkan bantuan kepada orang banyak dengan sesuatu yang tak didapatkan selain pada dirimu, suka menjamu tamu, dan menolong para pembela kebenaran.”

Tutur kata Khadijah ini laksana taburan hujan yang menyiram hati Rasulullah SAW yang tengah gersang. Seketika itu hati beliau menjadi tenteram dan damai, matanya berbinar, dan semangat hidupnya pun menguat kembali.

Sewaktu Khadijah telah mendengar langsung cerita Rasulullah SAW tentang peristiwa yang beliau alami di gua, dan juga mendengar langsung penjelasan dari Waraqah, ia menjadi yakin kalau Muhammad, suaminya, adalah nabi yang tengah ditunggu-tunggu, apalagi ia juga telah mendengar firman Allah yang berbunyi:

Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabbmu, agungkanlah! (QS. Al Mudatsir,1-3)

Berdasarkan bukti-bukti di atas, ia pun segera menyatakan keislaman dan keimanannya kepada Allah. Dia membenarkan keberadaan suaminya sebagai nabi. Dengan demikian, Khadijah adalah orang pertama yang menyatakan dirinya beriman kepada Rasulullah SAW.

Mulai saat itu Rasulullah memasuki kehidupan baru yang penuh dengan kesulitan, halangan, dan rintangan dalam perjuangan dakwahnya. Sementara istrinya yang beriman selalu setia mendampinginya, turut berdakwah dengan ucapan dan perbuatan. Khadijah memulai dakwahnya kepada orang yang di bawah perlindungannya, yakni Zaid bin Haritsah, budaknya, lalu kepada keempat anak putrinya. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah kaum muslimin semakin bertambah. Ujian yang keras datang dari kaum musyrik Quraisy dan para pemimpin mereka yang takut kehilangan pangkat, jabatan, dan kewibawaan. Khadijah pun tak gentar menghadapi semua itu. Dia berdiri tegak bersama Rasulullah SAW, rela mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya. Ia menyaksikan Nabi yang selalu tegar dalam mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah meskipun menghadapi bermacam-macam cobaan, intimidasi, dan penghinaan. Kian hari cobaan yang dihadapi semakin keras. Khadijah selalu membesarkan hati suaminya. Diperlihatkannya kepada sang suami keimanan yang kian  hari justru semakin mantap.

Ketika kaum kafir Quraisy memboikot hubungan kekeluargaan dan ekonomi kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya, Khadijah tetap memilih Allah dan Rasul-Nya. Dia meninggalkan harta benda keduniaannya, karena ia tahu bahwa perniagaan dengan Allah lebih berharga. Ketahuilah, perniagaan Allah adalah surga.

Khadijah dicoba dengan kelaparan dan kekurangan harta dalam pemboikotan ini, sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Namun, Khadijah tetap bersabar meski sebelumnya ia hidup mewah. Hingga akhirnya Allah memberi kabar gembira kepadanya, bahwa Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kabar gembira kepada Khadijah bahwa kelak dia akan memperoleh sebuah istana di surga.

Abu Hurairah R.A., berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Jibril datang kepadaku seraya berkata: “Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah. Dia hendak datang kepadamu dengan membawa wadah yang berisi makanan dan minuman. Ketika dia telah datang kepadamu nanti, maka sampaikan salam kepadanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikanlah kepadanya kabar gembira bahwa kelak dia akan beroleh sebuah istana di surga yang terbuat dari mutiara, yang tidak ada kegaduhan dan kepayahan di dalamnya”.” (HR. Bukhari-Musilm)

Berat dan pedihnya berjuang dalam menegakkan dakwah islam dijalaninya dengan penuh kesabaran terhadap tekanan dan permusuhan yang dilancarkan kaum musyrikin. Nabi selalu duduk bersamanya dan mencurahkan segala isi hatinya untuk melepaskan segala kesempitan yang ada dalam dadanya.

Namun Allah telah menentukan kehendak-Nya. Khadijah pun dipanggil untuk berada di sisi-Nya, di surga-Nya, seperti yang telah dijanjikan Allah kepadanya. Bagi Rasulullah SAW, Khadijah adalah istri penenang jiwa dan teman hidup yang sangat menyenangkan, penuh pengertian, sampai ia kembali ke pangkuan Rabbnya dengan  hati yang ridha lagi diridhai-Nya.

“Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung tidak memberi ganti kepadaku dengan yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika banyak orang mengingkariku. Ia membenarkanku ketika banyak orang mendustakanku. Ia menolong aku dengan hartanya ketika banyak orang mengembargo diriku.”

,,,,:Sumayyah Abdul Halim dalam Silsilah Ummahatul Mukminin: Sosok Ibu Teladan Kaum Mukmin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s